dialog bintang dan sendja
aku mencari ke mana gerangan si puisi cinta
entah di mana, atau terselip di antara bibir dinda
entah dia lupa bersua denganku
karena terlalu menikmati kencan dengan penyair lain
aku begitu takut, dia tak kutemukan lagi
sehingga tak ada jalan lagi membuka cintamu
puisipuisi hampir mati
tapi tidak guratgurat cintanya
kanda, bahkan hanya sepatah kata
rindu pucatku jadi berwarna
lalu pada sebuah sajak sapa, senyumku merekah
sebentar lagi sebuah syair sampai pada ujung bibirmu
mengganti waktu yang sempat bisu
kecupan puisimu mengoyak telisik di hatiku
berdarah merah
candukah dirimu?
mengapa aku ingin berdarah lagi oleh kecupan tajam darimu?
sayang, garis senja masih memanjang
masih ada waktu sebelum aku menikmati cinta pada rindumu
tapi bila begitu kuat candu pada bibir syairku menyayat,
boleh kukecup heningmu perlahan dalam hangat?