Perjalanan
Tentang Perjalanan Temaram
Hari Pertama
Aku menatap marka jalan yang pias, tertimpa cahaya artifisial lelampu pembatas arus, petang ini. Ritme hidup metropolitan yang tak pernah lelah dari bingar sudah seperti jamuan rutinku.
Aku sedang dalam perjalanan menuju sebentuk hati penuh kegundahan. Dan terbersit di pikiranku, apa harus saat temaram, untuk kuayun bilah-bilah senyum? Kehilangan mimpi jadi cambuk untuk giat mereguk polusi ibukota yang terkutuk. Yang sialnya, aku suka!
Ah.. Aku masih punya napas yang siap kuhembus pada segurat wajah letih. Aku masih punya erat peluk untuk merebahkan sang tangis. Aku masih punya segalanya kala tapak-tapak itu datang padaku.
Yang belum kutahu, harus kemana langkah-langkah ini menepi? Adakah di ujung khayal sana, pendar malaikat benar-benar menanti?
Lalu aku memaksakan diri menikamati aroma dedaun khas ambang malam sembari menebar sekelumit asa bahwa kekasihku, takkan pergi. Bahwa pada waktu-waktu kudus, ia akan bangkit dari kota mati. Dan pada pekat dilema, ia akan berteriak, “Tuhan! Jangan ciptakan jarak! Bukankah hamba-hambaMu harus saling berbagi kasih?”
Bus melaju lambat membawaku dalam lamun yang menggila. Dalam autisme yang tak tersentuh suara-suara sumbang pengamen yang memainkan gitar lusuh di dadanya. Hanya lamat-lamat kudengar rintih bunda, “Nak, biar bunda melihat cerah pada masamu. Karena diiringi separuh dien yang diridhoi.”
Ah.. warna-warni pada display-display kafe, tak ubahnya negeri dongeng di alam entah. Bila kuterpekur dan berbaur di dalam sana, apa mampu secangkir kopi atau sekaleng bir melebur takutku? Apa perlu tubuh kurus putih rasa menthol menyesapkan nikotin di lipatan otakku, hingga memberatkan kinerja paru-paruku?
Ah tidak! Makhluk hedonis hanya objek sepersekian dari kebulatan pencarianku. Adalah fana segala euforia yang ada. Aku hanya masih ingin bening dan kepahitan alami dalam kesempatan singkat ini.
Maka, aku putuskan untuk singgah pada stasiun kereta tua. Memaknai sulur-sulur dari rangkaian gerbong sebagai simbol sistem berulang yang berlalu dan kembali. Rel-rel berbatu, berbau pesing, menyambutku. Pula beberapa loper koran, pedagang asongan dan cabikan karcis yang berhamburan.
Bersama karat di bawah kursi plastikku, kuamati sorot sinar dan bebunyi deru. Dualisme hadir bergelinjang serupa jalur kembar di sepanjang peron. Bersisian, tapi tak pernah menyatu. Sungguh.. Pedih!
Aku enggan beranjak. Ada keterikatan garisku dengan tempat ini. Segera kupilih tuk lelap saja di sini. Diapit gembel kumuh yang lebih mengerti, arti diri. Tanpa pernah mengeluh, meski esok pagi tak pernah menyentuh embun lagi…
(Perjalanan menuju Darmint, Tebet dan berakhir di Pasar Minggu.
03 Maret 2009, 17. 55 – 23.56 bbwi)
Hari Kedua
Aku tersentak! Ketika terjaga kembali hingar yang bicara. Tak terbayang bertemu hari baru lagi. Dan Jakarta masih semarak!
Kali ini jejakku mengalir pada raut lusuh, mimik keruh, gestur rapuh yang berhimpitan di bawah riuh kelabu. Pada benak berseliweran nasib kerabat pula sahabat atau terkadang sama sekali tak satupun berkelebat.
Langit masih coklat buram, penanda gerbang malam masih temaram. Baliho-baliho raksasa mendelik. Bentuk persuasif untuk jadi konsumtif. Padahal tak terlalu terang juga. Lalu kenapa kepala-kepala itu masih melirik?
Ruas tol merayapi kota yang telanjang yang rela tubuhnya digerayang makhluk-makhluk jalang yang bertingkah mirip jelatang.
Lagi-lagi, aku, di antara hirukpikuk yang tak pernah berhenti. Ah… Kalbuku terpekik menjalari bau anyir keringat serta busuk semak-semak. Sesekali lirik liris berkumandang dan kentrung bermelodi timpang diperdengarkan.
Potret perjalananku, yang tanpa harap hanya menatap. Yang pada ujungnya menganga riang semu dan hangat ngilu.
Berkeretak jejari yang dengan lantang berdedikasi. Menenggak anggur merah, anggur putih, bergelas-gelas soda. Ditingkahi gurau perawan aduhai yang tak lekang dari pandang.
Ah… Lagi-lagi, aku, di antaranya! Hanya bisa mengatup mulut saja! Tak sadar menerawang tanpa punya tujuan.
Mereka, termasuk aku, pura-pura mati saat motor matic yang ditumpangi bayi terserempet metromini. Lalu menjelma jadi si bisu, tuli dan buta saat sebuah tangan sibuk merogoh, meraba-raba, merajalela.
Hey..!!
Apa Tuhan sedang tidur di apartemen mewah??
Atau sibuk jojing di lantai clubbing??
Apa Tuhan sedang berbagi kudapan di hotel berbintang??
Atau malah khusyuk masyuk di pelataran parkir pusat grosir??
Alah… Tuhan saja tak peduli..!!
Lalu kenapa kita semua, jadi repot mengurusi??
Dan ya…
Kali ini yang kucari hanya dengung sayang dari bibir-bibir mentah dan murahan. Sembari ikut bersorak, pada kemeriahan kumpulan footage, yang terpapar di ruang dingin, dilatari kayu, kain hitam dan berbagai jenis tampilan gambar yang cukup menerangkan elegannya perhelatan.
Sangat kontras bila menilik ke belakang. Hingga hanya cengir yang mengembang. Pada perempatan yang menghitung waktu menunggu, untukku menyebrang, aku terhenyak!
Aku harus melepas penat dimana? Pada shelter busway-kah? Pada trotoar berlubang-kah? Atau pada kolong flyover yang pinggirannya di tumbuhi krisan?
Entahlah…
Udara melembab… Rerintik air luruh… Aku butuh berbaring hingga mengering…
(Perjalanan menuju Bentara Budaya, Palmerah dan berakhir di Cawang-UKI.
04 Maret 2009, 17.44 – 23.38 bbwi)